Gadis itu, sungguh kasihan, gumam saya dalam hati. Apa pasal?memakai seragam sekolah dengan kerudung lebar, dan memakai rok panjang. Sungguh kasihan mbak mbak itu. Dia tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah di sekolah negeri. Pasti bersekolah di sekolah Islam yang mengharuskan memakai kerudung, swasta lagi. Itu pikiran polos seorang anak SD kala itu. Dan saya berpikir, bahwa sekolah Islam yang mengharuskan memakai kerudung itu, tidak bagus, yang bagus ya sekolah negeri, hahaha.
Dan saya yang masih polos imut imut, menganut hal itu. Kalau sudah besar, saya mau kerja di kantor, punya uang banyak seperti di TV TV itu hehe. Saya tidak berpikir untuk memakai kerudung, waktu itu saya belum kenal namanya jilbab, tahunya kerudung. Saya memang tidak dibesarkan dalam keluarga yang agamis, jadi, otomatis pengetahuan kami soal agama sangat minim, dan masih menggunakan tradisi nenek moyang. Saya hanya tahu, kalau agama saya Islam, yakni percaya sama Allah, sama Nabi, malaikat, dan seterusnya, ya rukun iman lah, pada hafal kan hehe. Ya sudah itu ya itu, dan juga terkait rukun Islam yang 5 itu. Ya hanya itu dan itu, kita cuma menganut itu, dan nantinya Insya Allah masuk surga, walau dosanya banyak, haduhh simple sekali!!
Jadi, memakai kerudung adalah hal yang sangat fanatic dalam agama, okey??untuk dulu, masih jahiliyah. Dan saya merasa bahwa ilmu agama sangat sedikit saya dapatkan ketika kecil. Cita cita yang sering didoktrinkan adalah “besok kamu mau jadi apa?”, “besok mau kerja di mana?”, “besok harus sukses, dan jadi orang kaya ya!”. Untuk itulah, saya diberi berbagai macam ilmu pengetahuan tentang dunia, bahkan sebelum sekolah TK pun, alhamdulillah sudah hafal nama nama ibukota Negara di seluruh dunia dan sudah bisa membaca headline koran. Itu kata ayah saya yang mengajari saya dulu, saya sudah lupa hehe, dan memang perkembangan otak manusia sedang bagus bagusnya antara umur 0 sampai 5 tahunan, jadi kalau kita sudah punya anak, hal itu akan menjadi peluang kita untuk menanamkan pendidikan agama sejak kecil. Dan anehnya, saya belum bisa mengaji huruf hijaiyyah satu pun, itu saya dapatkan kalau tidak salah ketika sudah sekolah, dan dengan bimbingan kakak sepupu saya. Ya yang penting bisa mengaji saja, pikir saya waktu itu.
Masa kecil dihabiskan di rumah, berteman dengan buku cerita dan televisi, membuat saya tumbuh menjadi anak yang amat sangat minder. Ooh, mungkin, saya kurang perhatian ibu, saya sering menangis minta belaian kasih sayang ibu, tetapi hanya saya dapatkan ketika malam saja, kenapa?karena ibu saya berjualan di pasar sampai sore, otomatis, siangnya saya sama ayah terus, dan kadang kadang diasuh oleh kakek nenek saya. Saya sangat rindu ibu di rumah, tidak usah di pasar saya, dan hanya menemani saya belajar dan bermain, tetapi tidak saya dapatkan. Untuk itulah, setiap hari Minggu, saya sangat senang ikut ibu ke pasar.
Dan mungkin, saya tidak tahu faktornya apa, apa karena kurang perhatian dari seorang ibu, saya menjadi anak yang sangat pendiam, dan tidak mau bermain di kala teman teman bermain, saya lebih senang menonton TV dan membaca buku cerita di rumah, mungkin sesekali diajak jalan jalan dengan kakek saya. Huuft!memang masa kecil kurang bahagia hahahaha.
Dan masa pendiam itu berlanjut hingga bersekolah di SD, hingga sering dipermainkan oleh teman teman. Saya sangat benci waktu itu, kenapa sih dunia ini gak adil??(yaa begitulah, kalau sering menonton TV, jadi tahu kosakata baru heheh). Dan saya bertekad, saya tidak mau satu SMP lagi dengan teman teman SD saya, saya mau berpisah dengan mereka, hahaha selamat tinggal temen temen jahil ^__^.
Masa SMP, bertemu lagi dengan pakaian ini, berwujud sebagai seragam sekolah SMP. Dan saya harus memakai kerudung, haduuh, keinginan untuk memakai seragam SMP pendek, gak terealisasi deh!. Tapi tidak apa apa, kan bisa dicopot di rumah, lagian ini juga karena cuma perintah dari bupati waktu itu, jadi suka suka saya dunk.
Sekolah baru, sekolah baru, jadi sikap saya juga harus baru dunk,, yakni menjadi Asri yang gaul, Asri yang tidak lagi pendiam, Asri yang tidak lagi kuper, dan Asri yang punya prinsip, apa prinsipnya?prinsip menjadi anak yang gaul wkwkwkwkw..
Mulai deh ya, mencari temen temen satu gank, mulai deh, naksir cowok, ehm ehm,, dan mulai deh, melarikan diri ketika shalat Dzuhur berjamaah, maksudnya shalatnya di rumah saja, kalau gak malas, lagian saya juga belum baligh, hehe, astagfirullah, seharusnya dipukul itu, tapi itu tidak diterapkan di keluarga saya hehehe.
Tapi mungkin, dasarnya pendiam, tidak bisa bergaul, ya gak biasa gaul, tetep kuper, malah jadi aneh kalau jadi anak gaul.
Saya kecewa lagi, kenapa sih tidak bisa menjadi anak yang gaul, kenapa sih gak bisa jadi nomor satu?gak bisa seperti temen temen, yang lantang berbicara, haduuuuh pikiran anak anak yang masih labil…. Dan selama 3 tahun, saya hanya berteman dengan anak anak yang biasa biasa saja menurut versi saya waktu itu, hehehe, maksudnya tidak “nggaya”,soalnya saya tidak nyambung kalau berteman dengan anak anak yang gaul, malah lebih cenderung ke anak anak alim, ya sudah lah, mungkin nasib saya, tetep kuper.
Berlanjut ke SMA, saya pengen tidak berjilbab, ketika sekolah menawari saya untuk memakai jenis pakaian yang apa. Kan dari SMP, sudah berkerudung, jadi saya pengen ngrasain gak berkerudung, atau kalau perlu, pengen pakai 2 macam seragam, satu pendek, satu panjang (saya bener bener belum paham soal jilbab, bener). Eh, tapi ternyata, saya ditakdirkan memakai jilbab, karena waktu MOS, yang tidak berjilbab disuruh mengucir rambut, yaaa, saya kan paling gak suka dikucir tinggi!!.
******
“Hidayah itu dicari, bukan ditunggu”, kata salah seorang mbak mbak di tempat saya ngaji. Saya cuma manggut manggut tidak mudheng, hidayah saja tidak tahu. Ooo, apa sih hidayah itu?dan bagaimana rasanya mendapat hidayah?batin saya waktu itu. Trus kenapa ya, mbak mbak ini bisa berjilbab lebar?padahal dulu katanya, masih ngejins, pake pakean ketat, de el el, benar benar sosok muslimah sempurna ^_^. Persis seperti gadis yang saya jumpai dulu waktu saya kecil, pakainnya juga hampir sama, memakai kerudung lebar, dan memakai rok panjang.
Mencari hidayah itu, bagaimana sih?apa membaca majalah “HIDAYAH”, waktu itu, saya suka sekali membaca iktibar di majalah hidayah, sangat menyentuh nurani, bahwa di dunia harus menjadi orang yang benar benar bertakwa, biar tidak terkena azab Illahi. Itu persepsi saya, tapi memang menyentuh sekali, tapi, saya belum ingin menjadi muslimah yang bener bener kaffah waktu itu, alias belum berjilbab lebar, jilbabnya yang penting tidak ketat, dan saya gak masalah memakai celana. Untuk itulah saya heran, kenapa sebagian temen temen ada yang memakai rok?.
Sepertinya saya harus mencari hidayah, dan apa sejatinya hidayah itu, saya bener bener tidak mengetahuinya, hingga saya merasakan ada kesejukan ketika membaca karangan Ustadz Salim A. Fillah berjudul “Gue Never Die” tentang motivasi berislam secara menyeluruh (kaffah), bahwa agama ini menyeluruh, dan menjadi muslim itu juga harus gaul secara syar’i^__^.
Lewat seorang sahabat yang ternyata berusaha mendekati secara diam diam, hehe PD, jazakillah khairan ukhty, tidak perlu saya sebut ya namanya, biarlah Allah menyebut dan mengingatnya karena beliau yang secara tidak langgsung mendekatkan saya kepada Islam yang indah, saya dipinjami buku terbitan PRO-U itu, dan itulah buku PRO-U pertama yang sayabaca. Dan ada suatu kekuatan yang saya rasakan ketika membaca karya Pak Salim dengan bahasa yang meremaja, namun sarat dengan nasehat nasehat khas remaja juga, subhanallah. Indahnya menjadi muslimah seperti itu ya., meski waktu itu, saya masih asing dengan bahasa bahasa ala aktivis aktivis, dan lewat kata kata itu, seperti menarik saya untuk terus mencari hidayah yang sebenarnya, dan ada rasa persaudaraan yang sangat indah dalam Dien ini. Hmm dan saya sangat menyesal, tidak merawat buku itu secara baik, karena tidak sengaja terkena air hujan, karena kamar saya bocor, ketika buku itu saya taruh di atas meja, dan buku milik saudari saya itu, masih ada hingga sekarang, karena saya menggantinya dengan yang baru ^__^, afwan ukhty.
Juga ada seorang saudari yang saya tidak sadar, berusaha mendekatkan saya dengan islam, dengan apa?saya diperkenalkan dengan masjid Syuhada Yogyakarta, tempat orang orang hebat dalam gerbong dakwah sekolah bersama Sm@rt Syuhada, juga ada majalah Minim@gz, saya dipaksa membeli waktu itu, hehe, tetapi sampai sekarang masih ada ukhty, juga acara acara pawai Ramadhan, nasyid nasyid dan lain lain, meski waktu itu, saya belum terlalu aktif di Rohis, karena saya juga belum paham, makna Rohis sendiri hehe, jazakillah semuanya ^__^, semoga Allah membalas misi kalian dalam mentarbiyah saya secara rahasia hehehehe.
Saudara saudariku ikhwah fillah yang dirahmati Allah, kita semuanya mempunyai potensi mendapatkan hidayah, karena Allah memberikan secara gratis, dan hidayah itu amat sangat mahal harganya. Ingatlah (bagi yang ingat ), betapa rasa persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar begitu kuat, bahkan salah seorang kaum berniat memberikan istrinya untuk dinikahi kaum yang lain, saya lupa kaum yang apa. Itulah nikmatnya mendapat hidayah, meninggalkan masa kelamnya, bersahabat dan bersaudara dengan nikmat iman dan islam. Ketika tangan ini berjabatan erat, sungguh ukhuwah menghancurkan segala rasa dendam, iri hati. Perpaduan tangan ini menciptakan rasa yang sulit dilukiskan, kalau boleh saya bilang, rasa sepenanggungan.
Jadi, ketika ada seorang saudara bilang, “ah, saya mau jadi baik, kalau mendapat hidayah, menunggu saja”, maka saya pikir akan sia sia saja, mengingat bahwa hidayah itu dicari, bukan ditunggu, kalau tidak dicari, ya tidak ketemu ketemu ^__^, benar tidak?bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu mengubahnya sendiri?. Dan rasakanlah bahwa kita juga pernah bersaksi dalam QS. Al A’raf : 172, ketika itu Allah mengambil perjanjian kita, “Alastu birobbikum?”, (bukankah Aku ini Tuhanmu?), lalu kita menjawab “Balaa syahidnaa”( benar dan, kami menjadi saksi). Rasakanlah, dan pasti kita akan menemukan siluet jejak yang tersembunyi dalam jiwa kita, karena apa?itulah gerbang fitrah islam kita sejak zaman azali.
Allah Sang Maha Cinta juga menegaskan bahwa “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu” (Adz-Dzariyat 56), nah lho, jadi otomatis pekerjaan kita di dunia itu ibadah kan?dan ibadah tidak hanya shalat, puasa, zakat dsb. Semua hal yang diniatkan karena Allah, insya Allah menjadi ibadah, jadi tidak ada salahnya, kalau kita berani menyerukan kebenaran tanpa harus menjadi baik dulu?istilahnya kan learning by doing, kita sama sama belajar menjadi baik dan menyerukan kebaikan kepada orang ^__^. Dan walau bagaimanapun hati kita sudah tertutup debu dosa, jejak syahadah itu masih ada, dia menunggu untuk kita rengkuh lagi, maka mari kita azzamkan untuk reuni lagi dengan fitrah islam kita. (aslinya dari kata kata Pak Salim) Dan dengan fitrah itu, akan menggerakkan sendi sendi tulang dan otot kita untuk bergerak mencari hidayah ^__^, karena kita lahir seperti selembar kertas putih yang siap dilukis dengan warna Islam yang menyejukkan atau dengan warna yang lain ^__^.
Dan mencari hidayah, bisa kita lakukan dengan membaca buku buku keislaman lainnya, atau menghadiri kajian kajian khusus anak muda (biar tidak bosan maksudnya) memang buku buku islam sering terasa berat, maka dari itu pula, perlu buku buku yang isinya tentang Islam khas remaja, sedikit promosi, buku buku kelompok terbitan PRO-U MEDIA, dengan tulisan tangan khas remaja seperti Ustadz. Salim, Pak Shofwan, Ustadz. Moh. Faudzil ‘adzhim, dan lain lain ^__^.
Untuk jilbab yang lebar, dengan rok panjang, baju yang longgar, terimakasih banyak telah mewarnai hari hari saya setiap hari entah ke kampus, pengajian, rapat/syuro’, kencan dengan temen temen ngaji, kencan dengan adek adek, bahkan untuk mencuci, hehe. Apa yang akan saya katakan terhadap gadis yang saya lihat waktu kecil sekarang??sangat hebat mbak, anti yang mengenalkan saya dengan pakaian takwa ini ^__^.
Karena kita masih dalam proses, mempersiapkan diri kita untuk datang kepadaNya, dan mempersiapkan diri, “Agar Bidadari Cemburu Padamu”, tulisan Pak Salim lagi, mengajak kita, para wanita (yang merasa wanita) untuk menjadi bidadari dunia dan surga ^__^, apalagi kita adalah calon ibu, maka sudah selayaknyalah kita memikirkan masa depan calon anak kita agar bermanfaat bagi agama dan bangsa. Dan jilbab, temani kami di setiap waktu. Jangan lelah berproses saudariku, karena kita lahir dalam keadaan suci, selayaknyanlah kita juga menyucikan jiwa kita dengan ilmu Islam, agar menjadi gaul ala Islam dan kembali kepadaNya dengan senyum terkembang ^__^.
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 dihttp://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html